Minggu, 29 Januari 2012

(Tips Menulis) Membuat Tulisan Bernyawa


Tips menulis? Memangnya siapa kamu? Mungkin pembaca sekalian akan berpikir seperti itu. Tapi semoga saja tidak. Aku memang belum menjadi penulis handal, masih harus banyak belajar, dari siapapun dan kapanpun. Termasuk dari pembaca sekalian. Komitmenku untuk menulis setiap hari minimal satu tulisan juga dalam rangka belajar. Menulis adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih setiap hari. Nanti, di tips yang lain akan kita bahas kaidah 1000 jam, insyaAlloh.
13278275781237743824
Dulu aku pernah iseng bertanya kepada seorang teman, “mengapa kamu tidak menulis?” dan dengan entengnya temanku itu menjawab, “tidak ada ide”. Dulu aku juga sering berpikir bahwa untuk memunculkan ide itu susah. Kadang saat ide itu sudah ada, aku susah memulai, bingung hanya untuk sekedar kata pertama. Baru menulis sedikit tiba-tiba pikiran langsung berkata, “bagus tidak ya?”, aku baca kembali
padahal tulisan belum selesai, merasa jelek, kemudian aku hapus semua yang sudah ditulis. Tidak jadi menulis.
Ide atau gagasan adalah sebuah langkah awal yang memang harus ada. Ide akan membuat tulisan kita menjadi fokus dan tidak melebar kemana-mana. Pesan yang akan kita sampaikan akan jelas dan mengena ketika pembaca selesai membaca tulisan kita. Dan ide itu ada dimana-mana, apa yang kita lakukan seharian, kita lihat, dengar, dan rasakan, semua adalah ide yang berserakan. Kita hanya perlu memilih ide yang bagus dan memberikan pesan powerfull buat pembaca kita.
Seperti ketika itu di suatu pagi, aku dan teman-teman memutuskan untuk berkunjung ke salah satu anak bangsa yang luar biasa. Dengan keterbatasannya, miskin dan tidak berpendidikan (hanya lulusan SD), Ia mampu mendirikan sebuah warung baca di rumahnya untuk ikut serta dalam mewujudkan salah satu cita-cita mulia negeri ini, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kiswanti namanya, biasa juga dipanggil Bude (bertubuh gede).
Selama 3 jam dirumahnya, aku fokus mendengarkan dan mencatat hal-hal penting yang Bude ucapkan. Memberiku banyak inspirasi. Perjalanan dan perjuangan mendirikan warung baca itu juga membuatku iri, sangat iri. Aku ingin sepertinya, bahkan ingin lebih hebat darinya. Bukan untuk sebuah ketenaran, namun demi menjalankan amanah negeri dan agama. Bermanfaat bagi sesama.
Sepulang dari silaturahim itu, aku membuka catatan kecilku dan merangkainya menjadi sebuah tulisan, tentang cerita anak-anak bangsa. Pembaca sekalian bisa melihatnya di blogku, pelukissenja.wordpress.com dan di kompasiana. Ternyata tulisan itu, banyak yang membaca dan mendapat appresiasi yang hebat dari pembaca sekalian. Ada yang mengirimi pesan ke inbox untuk meminta alamat Bude, ada yang sms dan memberikan ucapan salut atas tulisanku, ada juga yang langsung secara lisan, atau lewat facebookku. Alhamdulillah.
Silaturahim bisa dilakukan dengan siapapun, ketika naik angkutan umum kita bisa berkenalan dengan orang di sebelah kita, ngobrol. Jika kita jeli dari situ akan ada ide yang bisa kita jadikan tulisan. Atau seperti yang Jala Dara (TKW Hongkong yang juga sebagai penulis buku) lakukan, saat sedang ke pasar malam, Ia iseng berkenalan dengan seorang bapak penjual boneka Barbie. Dari perkenalan itu, Jala Dara menghasilkan sebuah tulisan hebat yang ia share di blognya. Aku, selalu berkenalan dengan sopir angkot yang aku naiki jika memungkinkan, berbagi cerita dan ingin belajar darinya tentang arti sebuah perjuangan mencari nafkah untuk keluarganya, itu akan menjadi sebuah ide tulisan yang hebat.
Pembaca sekalian, masih bingungkah menentukan ide tulisan? Bersilaturahimlah, kepada siapapun. Banyak manfaat yang kita dapat, menambah saudara, mempermudah rejeki, memperpanjang umur, dan memberikan ide hebat untuk sebuah tulisan. Percaya deh padaku. Tulisan akan menjadi bernyawa saat kita menuliskan apa yang kita lakukan, apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Salah satu caranya adalah silaturahim dengan siapapun. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar