Sabtu, 10 Desember 2011

Kedudukan dan Motivasi Haji

 

KEDUDUKAN DAN MOTIVASI HAJI
Setiap muslim yang sejati, pasti ingin menunaikan ibadah haji yang merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Namun, belum semua muslim bisa menunaikan ibadah tersebut, baik karena faktor waktu, biaya maupun fisik dan kendala-kendala lainnya.
PENGERTIAN
Secara harfiyah, haji artinya membuat keputusan untuk mengunjungi tempat yang suci. Disebut demikian karena, seorang muslim memang harus membuat dan mengambil keputusan untuk mengunjungi Makkah sebagai tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima.
HUKUM DAN KEDUDUKAN
Dari pengertian di atas, maka kita bisa mengambil kesimpulan tentang hukum menunaikan haji, yakni wajib apabila seorang muslim telah memiliki kemampuan, baik kemampuan fisik, mental maupun material. Namun kewajiban haji hanyalah sekali saja dalam kehidupan seorang muslim, sedang pelaksanaan haji yang kedua dan seterusnya termasuk sunat. Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw berpidato dengan menyatakan: "Hai manusia! Allah telah mewajibkan haji atasmu, maka tunaikanlah". Seorang sahabat bertanya: "Apakah setiap tahun ya Rasulullah?". Nabi diam, hingga orang itu mengajukan pertanyaannya tiga kali. Kemudian Nabi bersabda: "Andaikan saya katakan "ya", maka akan menjadi wajib, sedang kamu tak akan sanggup memenuhinya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Meskipun kewajiban haji hanya sekali dalam seumur hidup, namun menunaikannya harus dilakukan sesegera mungkin apabila kemampuan sudah dimiliki, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa hendak menunaikan haji, hendaklah dilakukannya dengan segera, karena mungkin diantara kamu ada yang sakit, hilang kendaraannya atau ada keperluan lainnya (HR. Ahmad, Baihaqi, Thahawi dan Ibnu Majah).
Ibadah Haji itu sendiri memiliki kedudukan yang amat mulia di sisi Allah Swt, karena itu ibadah ini seringkali disebut dengan puncak pengalaman rohani. Disebut demikian karena ibadah-ibadah lain terangkum dalam ibadah haji. Shalat ada dalam haji, nilai puasa terdapat dalam haji, berkorban juga demikian dan begitulah seterusnya.
KEUTAMAAN HAJI
Ibadah haji adalah ibadah yang memiliki keutamaan yang sangat besar dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya. Di dalam Al-Qur'an maupun hadits-hadits, dikemukakan tentang sejumlah keutamaan dari ibadah haji itu.
1. Amal Yang Paling Utama.
Dalam banyak hadits, Rasulullah Saw menyebutkan tentang amal-amal yang utama, salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Dalam satu hadits, dikisahkan:
Rasulullah Saw ditanya tentang amal yang paling utama. Maka ujarnya: "Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya". Orang itu bertanya lagi: "Kemudian apa?". Rasul Menjawab: "Berjihad di jalan Allah". Orang itupun bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?". Jawab Nabi: "Haji yang mabrur" (HR dari Abu Hurairah ra).
2. Bagian Dari Jihad Di Jalan Allah.
Haji juga disebut oleh Rasulullah Saw sebagai ibadah yang derajatnya sama dengan jihad fi sabilillah, karenanya apabila seseorang -terutama orang tua, orang yang lemah dan wanita- mati sewaktu menunaikan ibadah haji, bisa saja digolongkan matinya itu seperti mati syahid. Dalam atu hadits dijelaskan:
Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw, katanya: Saya ini penakut dan saya ini lemah. Ujar Nabi: "Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya, yaitu menunaikan haji" (HR. Thabrani dari Husein bin Ali).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda: " Jihad orang yang tua, lemah dan wanita ialah menunaikan haji" (HR. Nasa'i).
Oleh karena itu mengeluarkan dana untuk menunaikan ibadah haji juga termasuk mengeluarkan dana untuk perang di jalan Allah sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi Saw:
Mengeluarkan biaya untuk keperluan haji sama dengan mengeluarkannya untuk perang di jalan Allah: satu dirham menjadi tujuh ratus kali lipat (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi).
3. Dapat Menghapuskan Dosa
Setiap orang yang berdosa tentu ingin agar dosa-dosanya terhapus atau diampuni Allah Swt, ibadah haji merupakan ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa orang yang melaksanakannya, bahkan bisa seperti bayi yang baru dilahirkan, yakni dalam keadaan tidak punya dosa, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak bercampur pada waktu terlarang serta tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti saat dilahirkan ibunya (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Menjadi Duta-Duta Allah
Salah satu bentuk kemuliaan jamaah haji adalah disebut sebagai duta-duta Allah sehingga hubungannya kepada Allah menjadi sangat dekat, karena itu manakala seorang jamaah haji berdo’a, apalagi berdo’a nya di tempat-tempat yang mustajabah, maka insya Allah akan dikabulkan, Rasulullah Saw bersabda:
Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah. Maka jika mereka memohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun, pastilah diampuni-Nya (HR. Nasa'i dan Ibnu Majah).
5. Memperoleh Balasan Syurga
Bisa masuk ke dalam syurga merupakan dambaan setiap muslim. Karena Allah telah menyebutkan jamaah haji sebagai duta Allah dan memperoleh ampunan, maka kepada orang yang sudah menunaikan haji dengan baik akan dianugerahi oleh Allah syurga-Nya yang penuh dengan kenikmatan, Rasul Saw bersabda: Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain syurga (HR. Bukhari dan Muslim).
MOTIVASI MENUNAIKAN HAJI
Karena ibadah haji merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan sekali saja dalam hidup ini, maka setiap muslim harus menunaikan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, sangat diperlukan motivasi yang lurus dan benar. Motivasi ibadah haji sebagaimana ibadah-ibadah lainnya dalam Islam adalah ikhlas karena Allah dan dalam rangka memperoleh ridha-Nya.
Apabila keikhlasan sudah tertanam kedalam jiwa calon haji, maka meskipun pelaksanaannya berat dan memerlukan pengorbanan harta, tenaga, waktu, perasaan bahkan nyawa sekalipun, seorang muslim akan dengan terasa ringan dalam melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Namun tanpa keikhlasan, jangankan ibadah yang berat seperti tawaf yang berdesakan, wuquf yang panas, melontar yang penuh resiko dan sebagainya, ibadah yang ringanpun sangat terasa berat untuk bisa dilaksanakannya. Keharusan kita berlaku ikhlas dalam motivasi beribadah difirmankan Allah yang artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS 98:5).
Keikhlasan ini harus dijaga dan dipelihara tidak hanya pada waktu sebelum menunaikan atau saat menunaikan haji, tapi juga sesudah menunaikan haji, hal ini karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita kalau seorang haji menggunakan gelar haji dan dipanggil dengan gelarnya itu, maka kalau kita tidak dipanggil dengan gelar haji, kita merasa tidak masalah, tidak tersinggung, tidak kesal dan sebagainya hanya karena tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Haji.
Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa sebesar apapun pengorbanan yang kita lakukan, menunaikan ibadah haji membuat kita tidak melakukan sesuatu yang amat mulia dan memberi keberuntungan, tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar